KOPW Purwokerto
Mengembangkan Potensi yang Berkualitas
Membatasi Screentime Untuk Melatih Fokus Belajar Anak (Parenting)
Narasumber : Kurniasih Dwi Purwanti M. Psi, (Psikologis Klinis RS JIH Purwokerto)
Penulis : Nitta Anggi
Editor : Marviarum Geotemi
Purwokerto, 27 Juli 2025 Ngapak Women IIPOJK Purwokerto mengadakan Sosialisasi Parenting dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional dengan mengangkat tema Screentime pada Anak.
Di era digital saat ini, layar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak tumbuh di lingkungan yang dipenuhi gawai, televisi, komputer, dan berbagai perangkat digital lainnya. Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, terlalu banyak waktu di depan layar (screentime) juga dapat berdampak negatif bagi perkembangan anak. Orang tua perlu memahami bagaimana screentime mempengaruhi kemampuan belajar dan apa yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkannya.
Apa Itu Screentime?
Screentime adalah jumlah waktu yang dihabiskan seseorang untuk menggunakan perangkat dengan layar seperti smartphone, tablet, komputer, dan televisi. Untuk anak-anak, screentime bisa mencakup bermain game, menonton video, belajar online, hingga bersosialisasi lewat media sosial.
Rekomendasi Screentime Berdasarkan Usia (Menurut WHO & AAP)
- Bayi 0–2 tahun: Sebaiknya tidak terpapar layar sama sekali, kecuali untuk video call bersama keluarga.
- Anak usia 2–5 tahun: Maksimal 1 jam per hari, dengan konten yang berkualitas dan didampingi oleh orang tua.
- Anak usia 6 tahun ke atas: Tidak ada batas waktu pasti, namun orang tua perlu memastikan adanya keseimbangan antara waktu layar, aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan interaksi sosial.
Dampak Negatif Jika Screentime Berlebihan
- Gangguan tidur: Cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang membantu tidur.
- Masalah perkembangan sosial: Anak yang terlalu sering menatap layar bisa kehilangan waktu berinteraksi langsung dengan orang lain.
- Keterlambatan bicara: Pada anak usia dini, terlalu sering menonton layar dapat menghambat kemampuan berbahasa.
- Obesitas: Kurangnya aktivitas fisik akibat screentime berlebih bisa meningkatkan risiko kegemukan.
- Gangguan perilaku dan emosi: Anak bisa menjadi mudah marah, cemas, atau kecanduan terhadap gawai.
- Penurunan kemampuan konsentrasi: Konten digital yang cepat dan terus berganti membuat otak terbiasa dengan stimulasi instan, sehingga sulit untuk fokus pada tugas yang memerlukan ketekunan seperti membaca atau mengerjakan soal.
- Kecanduan gawai: Anak bisa menjadi gelisah jika tidak memegang perangkat, bahkan saat waktunya belajar.
Multitasking berlebihan: Menonton sambil belajar justru mengurangi efektivitas belajar.
Manfaat Screentime Jika Dikelola dengan Baik
Tidak semua screentime berdampak buruk. Jika digunakan secara bijak, teknologi bisa menjadi alat edukasi dan hiburan yang bermanfaat:
- Pembelajaran interaktif melalui aplikasi edukatif dan video pembelajaran.
- Kreativitas lewat kegiatan menggambar digital, membuat video, atau coding.
- Koneksi sosial dengan keluarga jauh melalui panggilan video.
- Pengenalan teknologi, yang penting untuk masa depan anak di dunia modern.
Mengapa Fokus Penting dalam Proses Belajar?
Fokus membantu anak:
- Menyerap informasi lebih baik
- Menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan benar
- Meningkatkan rasa percaya diri
- Mengembangkan disiplin dan kemandirian
Oleh karena itu, membatasi screentime bukan sekedar soal mengurangi waktu layar, tapi juga investasi untuk masa depan akademik anak.
Tips Mengelola Screentime pada Anak
- Jadwalkan screentime: Buat aturan harian kapan dan berapa lama anak boleh menggunakan perangkat.
- Pilih konten berkualitas: Gunakan aplikasi dan tontonan edukatif yang sesuai usia anak. Situs seperti Common Sense Media dapat membantu menilai konten.
- Dampingi anak saat menonton atau bermain: Gunakan momen tersebut untuk berdiskusi dan menjelaskan apa yang dilihat anak.
- Berikan contoh yang baik: Anak meniru orang tuanya. Kurangi penggunaan gawai saat bersama anak.
Sediakan alternatif kegiatan: Ajak anak bermain di luar, membaca buku, atau melakukan aktivitas seni. - Zona bebas layar: Tetapkan area rumah bebas layar, seperti kamar tidur dan meja makan.
Kesimpulan
Screentime bukanlah musuh, tapi perlu dikendalikan dengan bijak. Kuncinya adalah keseimbangan. Dengan pengawasan, pemilihan konten yang tepat, dan waktu yang terukur, screentime dapat menjadi bagian positif dalam tumbuh kembang anak. Peran aktif orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat sejak dini. Membatasi screentime bukan berarti menghilangkan teknologi dari kehidupan anak, tapi mengajarkan kapan dan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak. Anak akan tumbuh lebih fokus, mandiri, dan siap menghadapi tantangan belajar di masa depan.






